The dandelion Wish

By Ann - Desember 27, 2011

Dari kemarin agak sedikit terganggu dengan kata "dandelion" bunga yang cantik, akhirnya saya coba nulis ceritanya dan inilah hasilnya.. baru kali ini saya nulis dengan tema bunga, semoga ceritanya tidak membosankan haha
P.S : Tolong komentar dan sarannya :D 


The Dandelion Wish
Aku duduk disudut sebuah taman dan seperti biasa mengambil mp3 player dari tasku dan memutar lagu kesuakaanku morning mood.   Tidak pernah aku melihat tempat yang seperti ini sebelumnya tidak terawat dan penuh rumput liar. Aku memperhatikan sekeliling taman ini, tidak ada yang istimewa kecuali pria tua yang membawa gerobak berisi bunga. Sepertinya pria tua itu sangat disukai oleh orang-orang ditempat ini. Tanpa aku sadari, aku terus memperhatikan pria tua itu. Aku tidak tau apa yang sedang dilakukannya tetapi sepertinya dia sedang berbicara dengan bunga-bunganya. Pemandangan yang tidak biasa pikirku.
Kemudian pria tua itu melihat kearahku dan aku hanya memasang senyum dan dia pun membalas senyumanku. Sepertinya dia tahu aku memperhatikannya dari tadi. Ada perasaan sedikit malu yang muncul seketika itu juga. Pria tua itu kemudian menuju ke arahku, dan dengan tersenyum dia bertanya padaku “Nona, apa kau ingin membeli bunga?”. Aku lalu melepaskan headset yang sejak tadi aku pakai, “Aku menjual bunga.” Kata pria itu sekali lagi. Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. “Baiklah” kata pria tua itu dengan masih tersenyum. Dia lalu bertanya sekali lagi “ Apakah kau orang baru disini?” Aku menjawab dengan menganggukkan kepala. Pria tua itu terlihat bingung karena sejak tadi aku tidak mengeluarkan suara untuk menjawabnya. Aku lalu meberitahukan dengan gerakan isyarat bahwa aku tidak dapat berbicara. Ya, aku tidak dapat berbicara sejak kecil. Aku hanya menggunakan bahasa isyarat saat berbicara dan bila ada yang tidak mengerti, aku menggunakan papan tulis kecil yang selalu aku bawa kemana-mana. Pria tua itu menganggukkan kepala dan berkata “ah, aku mengerti..”. Pria tua itu kemudian kembali ke gerobak bunganya.
Seperti biasa pikirku, setiap orang yang tahu kalau aku tidak dapat berbicara pasti akan meninggalkanku begitu saja. Aku sebenarnya merasa malu karena tidak dapat berbicara seperti orang lain, tidak dapat mengeluarkan suara tawa, tidak dapat berteriak.  Sejak kecil aku selalu sendiri. Saat ibu meninggal, tidak ada lagi yang memperhatikanku bahkan saudara-saudaraku sendiri. Setiap kali memikirkan hal ini hatiku terasa sakit. Aku dipindahkan ke kota kecil ini hanya karena aku dianggap tidak dapat malakukan apapun di kota tempat tinggalku sebelumnya. Di sini aku tinggal bersama seorang bibi baik hati yang mau merawatku. Terkadang aku berpikir untuk lari dari semua ini, tapi ada sesuatu yang selalu mengingatkanku untuk tetap tinggal.
Aku memasang kembali headset yang tadi aku lepas lalu kembali mendengarkan lagu-lagu classic yang aku sukai. Aku sangat kagum pada Beethoven yang bisa membuat musik yang indah bahkan disaat dia sudah tidak dapat mendengar dan Mozart yang meraih sukses di saat tidak ada orang terdekat yang mendukungnya. Tapi aku tidak punya kemampuan seperti Beethoven ataupun Mozart. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dengan lembut yang membuyarkan semua lamunanku. Aku berbalik dan ternyata pria tua itu kembali, kali ini dia membawa bunga tulip ditangannya. Aku kembali melepaskan headsetku, aku hanya dapat menatapnya dengan heran. Dia lalu berkata kepadaku “Apa kau tahu bunga itu bisa berbicara?” aku hanya bisa menatapnya dengan kebingungan. Dia lalu duduk disampingku “mungkin terdengar aneh bagi mu, tapi bagiku bunga dapat berbicara dan membantumu mengungkapkan perasaan, seperti tulip ini dia terlihat cantik dengan mahkota bunga yang indah dia berkata aku sangat sempurna” matanya berbinar saat dia membicarakan tentang bunga. Membuatku penasaran saat mendengarkannya berbicara. “Boleh aku tahu siapa namamu?” kata pria itu lagi. Aku lalu mengambil papan tulis kecil dan menuliskan namaku diatasnya. Dia terlihat agak sedikit terkejut ketika membacanya “Dandelion”.  “Nama yang indah” tambahnya. Aku hanya bisa tersenyum untuk membalas perkataannya.
“Aku Ludwig”
“Aku pernah mendengar cerita rahasia tentang bunga Dandelion, tapi aku tidak tahu apakah kau ingin mendengarnya atau tidak.” Katanya dengan sopan. Aku lalu mengangguk dengan penuh harap kalau pria tua ini akan menceritakan kisah dandelion itu padaku. “Baiklah akan ku ceritakan rahasia tentang dandelion.” Dia lalu berdiri dan berjalan ke arah rumpu-rumput liar tumbuh, dan aku mengikutinya dari belakang. Kemudian dia berhenti dan memetik sebuah bunga berwarna putih dan bulat, terlihat seperti sebuah kapas bagiku. “Apa kau tahu inilah dandelion itu.” Ini pertama kalinya aku tahu bahwa bunga itu bernama dandelion, seperti namaku. 


Tapi satu hal terbersit dipikiranku, aku pasti sama dengan bunga ini tidak berguna sama sekali, bahkan untuk di taruh di taman sekalipun. Pria itu menatapku dan melanjutkan ceritanya “Banyak orang berpikir bahwa dandelion itu hanyalah rumput liar yang tidak berguna, tapi bagiku tidak seperti itu. Dandelion sangat cantik dan kuat. Meskipun tidak secantik bunga mawar dan tidak seharum bunga melati tapi tidak ada bunga lain yang dapat bertahan hidup seperti dandelion. Gugur untuk hidup. Saat angin bertiup dia akan menerbangkan semua benihnya dan berharap akan jatuh ditempat yang tepat sehingga akan tumbuh bunga dandelion baru untuk menggantikannya.” Dia berbalik kepadaku dan berkata “pasti ada alasan mengapa kau diberi nama seindah bunga ini.” Sekali lagi aku hanya tersenyum tapi kali ini aku tidak bisa menutupi raut wajahku yang sedih. Aku lalu menulis kembali diatas papan tulis “Tapi aku tidak sekuat dandelion itu dan aku tidak memiliki bakat apapun itu sebabnya aku disini” Pria itu lalu mengambil napas dalam dan meniup dandelion itu sehingga terbang dengan indah. “Menurutmu apa dandelion itu tidak indah? Dia tetap memiliki sisi keindahan tergantung dari mana cara mu melihatnya” Aku tidak dapat berhenti menatap benih-benih dandelion yang sedang terbang itu, sungguh indah. Aku berharap, akupun dapat seperti bunga dandelion itu. “Rahasia dari dandelion adalah saat kau meniupnya dengan mengucapkan impianmu dalam hatimu maka dia dapat mewujudkannya.” Pria itu lalu memetik sebuah dandelion lagi dan memberikannya padaku sambil tersenyum kemudian dia pergi. Aku berjalan sedikit jauh lagi kedalam taman itu dan aku menemukan sebuah rahasia lain ternyata taman ini adalah taman dandelion. Begitu banyak dandelion ditaman ini dan begitu angin bertiup aku melihat pemandangan yang begitu indah. Angin menerbangkan seluruh benih-benih dandelion itu. 
 
Aku memejamkan mata dan berharap dalam hati agar suatu hari aku dapat menjadi seperti dandelion yang kuat.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar